Selayang Pandang Paroki Salib Suci
Sekilas Tentang Paroki Salib Suci
Letak Geografis dan Alamat Sekretariat
Paroki ”SaIib Suci” wilayahnya mencakup dua kecamatan, yakni Kecamatan Cilincing dan sebagian Kecamatan Koja – Jakarta Utara. Paroki ini merupakan salah satu Paroki di Keuskupan Agung Jakarta, berpusat di Desa Tugu – Kecamatan Koja Jakarta Utara.
Sekretariat dan Gedung Paroki Salib Suci di :
Jl. Raya Tugu No. 12
Kelurahan Tugu Utara – Kecamatan Koja
PO Box : 6004 / JKU
Tanjung Priok – Jakarta 14260
Telp : 021. 4405740 dan O21.4400769
Embrio Paroki Salib Suci
Pada awalnya Paroki Salib Suci yang perintisan pendiriannya sudah dilakukan sejak tahun 60-an, merupakan salah satu stasi dari Paroki St. Franxiscus Xaverius – Tanjung Priok, yang pada saat itu disebut Stasi Timur. Stasi Timur ini meliputi tiga kring besar, yaitu: Kring TNI Angkatan Laut Dewa Ruci, Kring Polisi Airud Kebantenan dan Kring TNI Angkatan Darat Jon Air. Umat dari ketiga kring inilah yang memotori kegiatan di Stasi Timur. Maka tidak bisa dipungkiri bahwa ketiga kring besar itulah yang merupakan “embrio” bagi lahirnya Paroki Salib Suci.
Digiring Kembali ke Rumah Tuhan
Pada tahun 1960 Gereja berhasil mendapatkan hibah tanah milik TNI Angkatan Laut yang terletak di antara Kompleks AL Dewa Ruci dan Dewa Kembar Jakarta Utara. Di atas tanah ini rencananya akan dibangun komplek Persekolahan dan Gereja Katolik. Pada tahun 1964 berhasil dibangun SD Strada-TKM I. Namun ketika gedung SMP mulai dibangun ternyata sebagian harus dibongkar karena terkena proyek pambangunan jalan raya Cakung-Cilincing. Tanah untuk gereja tidak mendapat ganti, sedangkan tanah untuk pembangunan gedung SMP mendapat ganti dari Pemda DKI. Di atas tanah inilah saat ini berdiri komplek SMP Strada Fransiscus Xaverius III dan SD Strada – TKM II.
Usaha untuk mendapatkan tanah bagi pembangunan Gereja terus dilakukan, hingga didapatkan sebidang tanah di Kampung Mencle – Marunda seluas 2,8 hektar yang dibeli oleh Pater Paap, SJ. Namun ternyata tanah inipun diambil alih oleh pemerintah dengan ganti rugi. Tanah tersebut digunakan untuk perluasan pelabuhan PPL Marunda yang sekarang Iebih terkenal dengan sebutan Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Marunda.
Fortirer in re, suaviter in modo
Pencarian tanah untuk membangun Gereja terus dilanjutkan, hingga mendapatkan tanah berbentuk ’L’ seluas 6.680 meter persegi di Kampung Bulak – Tugu, tepatnya sekarang dipergunakan untuk komplek Sekolah Strada Bhayangkara. Di Lokasi inipun batal dibangun gereja, karena selain tempatnya sangat berdekatan dengan lokalisasi WTS Kramat Tunggak (saat ini telah berubah menjadi Islamic Centre), juga terkena perencanaan Tatakota DKI, yakni lokasi tersebut akan terbelah menjadi empat oleh jalan, sehingga gereja tidak mungkin dibangun di sana.
Pada tanggal 29 Juni 1978 seorang agen titipan barang menawarkan tanahnya seluas 7.980 meter persegi, yang berlokasi di Jalan Tugu No. 8 Jakarta Utara. Tanah ini segera dibeli oleh Keuskupan Agung Jakarta. Ternyata lokasi ini sangat tepat untuk membangun sebuah gereja, bukan saja karena lokasi /letaknya di pusat paroki tetapi juga karena latar belakang sejarahnya:
Daerah Tugu yang terletak di bagian Utara-Timur Jakarta ini agak terpencil, namun memiliki kekayaan sejarah yang tak ternilai, karena sudah dihuni manusia sejak abad ke-5. Jadi sangat mungkin daerah ini merupakan daerah di Jakarta pertama yang dihuni manusia. Sebuah sumber mengatakan bahwa nama Tugu berasal dari kata por-Tugu-ese. Sumber lain yang lebih dapat dipercaya kebenarannya menyatakan, kata Tugu berasal dari “Prasasti Tugu” batu bertulis dengan Bahasa Sansekerta dan berhuruf Pallawa dari Zaman Taruma Negara (sekitar abad ke-5) yang ditemukan di desa Tugu ini. Tugu batu yang hingga kini masih tersimpan di Museum Jakarta itu berisi tulisan antara lain tentang kali Chandrabhaga, serta perintah Raja Purnawarman untuk menggali kali Gomati yang permai dan jernih airnya.
Orang Portugis memang pernah tinggal di daerah ini. Ketika pada tahun 1641 Malaka sebagai daerah jajahan Portugis jatuh ke tangan Belanda, banyak orang Portugis yang menjadi tawanan perang, dibawa ke Jakarta, dan sebagian dari mereka setelah pindah agama dari Katolik menjadi Kristen dibebaskan, serta diberi tempat tinggal di daerah Tugu.
Rada tahun 1678 dibangun sebuah bangunan kayu sebagai Gereja dan sekolah, atas prakarsa Pendeta Melchior Leydecker Pendeta ini juga tinggal di Desa Tugu, dan di sinilah ia menerjemahkan Kitab Injil dari Bahasa Belanda ke dalam Bahasa Indonesia. Kemungkinan, karya besar yang ketika beliau dipanggil Tuhan baru sampai Efesus 6:6, merupakan terjemahan Bahasa Indonesia yang pertama dari Kitab Suci. Beliau dimakamkan tanggal 16 Maret 1701 di halaman gereja seperti Iayaknya tradisi pemakaman pendeta di Eropa.
Gereja kayu yang pertama dibangun itu mulai rusak, maka pada Iokasi yang sama dibangun lagi gereja kedua dan selesai pada tahun 1738. Namun gereja inipun rusak pada tahun 1740 sewaktu timbul pemberontakan Cina. Maka pada tahun 1744 – 1747 dibangun gereja ketiga berlokasi beberapa ratus meter dari lokasi gereja pertama dan kedua. Gereja ketiga ini masih berdiri sampai sekarang, dan menjadi GPIB Tugu.
Menurut kesaksian hidup turun-temurun, gereja pertama dan kedua itu dibangun diatas tanah yang akhirnya dibeli Keuskupan Agung Jakarta pada tahun 1978 di jalan Tugu No. 8. Di lokasi ini juga ditemukan tiga lokasi pemakaman rohaniwan, dengan salib kayu di atasnya.
- Pastor HJW Boelaars, OFM Cap yang kebetulan bertamu dan menjawab pertanyaan Pastor Bob F. Baudhuin, SJ, Pastor Paroki saat itu, menuturkan bahwa memang benar di lokasi ini terdapat makam beberapa rohaniwan, sambil menunjuk tiga tempat pemakaman.
- “Orang pandai” lain yang kebetulan bertamu juga menunjuk tiga lokasi pemakaman, sama seperti yang ditunjuk oleh Pastor HJW Boelaars, padahal keduanya belum pernah bertemu.
- Masih ada seorang ”tamu pintar” lagi yang mengatakan dan menunjukkan tempat yang sama. Di atas salah satu tempat yang ditunjukkan itu, pernah dibangun Goa Maria yang indah, yang saat ini menjadi tempat parkir motor di sebelah utara gedung paroki.
Siapa para rohaniwan yang dimakamkan, hingga kini masih belum jelas. Bila mereka imam, mungkin Pastor Aegidius De Abreu seorang Jesuit Portugis yang dimakamkan di Jakarta pada tahun 1618, atau Pastor Andrade OFM yang dimakamkan di Jakarta pada tahun 1754.
Jadi, bukanlah sebuah kebetulan jika akhirnya Gereja Paroki Salib Suci ternyata harus dibangun di jalan Tugu No. 8 yang sekarang telah berubah nama menjadi jajan Raya Tugu No. 12. Umat paroki Salib Suci yakin, bahwa Tuhan sendirilah yang memilih tempat ini dan telah menggiring anak-anak-Nya kembali ke tempat yang sejak semula sudah menjadi Rumah Tuhan.
Pendirian Paroki dan PGDP
Ketika pada tahun 1976, Uskup Agung Jakarta Mgr. Leo Soekoto, SJ menugaskan Pastor Robert F. Baudhuin, MM dan Pastor Vincent P. Cole, MM di Stasi Timur. Kedua pastor itulah yang merintis terbentuknya Paroki Salib Suci hingga terwujud pada tanggal 1 Januari 1977. Hal ini ditandai dengan pembaptisan dua orang bayi di Kapel Susteran OSF. Sejak saat itu umat Stasi Timur memiliki administrasi sendiri, terpisah dari Paroki induknya St. Fransiscus Xaverius. Maka tanggal 1 Januari 1977 ditetapkan sebagai Hari Lahirnya Paroki Salib Suci. Namun secara resmi Paroki ini berdiri penuh sejak bulan Februari 1978, berdasarkan Surat Keputusan Uskup Agung Jakarta Mgr. Leo Soekoto, SJ tentang pembentukan paroki dengan susunan Pengurus Gereja dan Dana Papa (PGDP) sebagai berikut:
Ketua: Pastor Robert Francois Boudhoin, MM
Wakil Ketua: M.F. Silalahi
Sekretaris: LG. Budhiyanto
Bendahara: I.Y. Soeratono
Anggota: Liando Martin
Touto Nika
Meskipun tidak ditemukan dokumen tertulis yang dapat menjawab alasan mengapa Paroki ini diberi nama Paroki Salib Suci, namun dari para narasumber dan saksi sejarah yang masih hidup, diperoleh beberapa alasan yang dianggap dapat menjelaskan mengapa dipilih nama “Salib Suci” :
1. Saat itu umat Katolik yang berprofesi sebagai pelaut, mempunyai kebiasaan jika hendak berangkat berlayar selalu membawa Salib, dengan keyakinan bahwa salib menjadi sumber kekuatan dan keselamatan dalam menghadapi tantangan badai di laut.
2. Pada saat dimulainya karya-karya sosial di pesisir pantai Cilincing dan sekitarnya serta di lokalisasi WTS Kramat Tunggak oleh para Misionaris Maryknoll dibantu oleh beberapa umat, mereka mendapat tantangan bahkan perlawanan dari masyarakat setempat yang tidak menghendaki kehadiran Gereja dan Karya-karya Misi di wilayahnya, karena dianggap sebagai upaya Kristenisasi.
Dalam melaksanakan pelayanan, merekapun selalu membawa Salib dengan maksud dan tujuan yang sama dengan para pelaut tersebut. Bahkan mereka berkeinginan bahwa di daerah karya mereka Salib harus ditancapkan lebih dalam. Akhirnya berkembanglah usulan untuk nama Paroki mereka yaitu “Paroki Salib” atau “Gereja Salib”.
3. Pastor HJW Boelaars, OFM Cap, yang dikaruniai indera keenam untuk penemuan situs-situs sejarah, menuturkan bahwa tempat ini / Jl. Tugu Nomor 8 adalah peninggalan Gereja pertama yang didirikan tahun 1678 dan Gereja kedua yang dibangun tahun 1738 oleh Misionaris Portugis.
Selain itu dijelaskan juga bahwa di lokasi itu ada 3 makam misionaris yang ditandai dengan Salib di atasnya. Salah satu Salib di makam itu, selanjutnya diganti dengan Salib berukuran lebih besar (+/- 2 m). Saat ini Salib tersebut telah dipindahkan di samping Goa Maria Salib Suci yang dipugar saat Romo P.Aryono, CM memimpin paroki ini. Sementara bekas tempat Salib itu dibangun lapangan parkir mobil.
Dari ketiga versi yang waktu dan alasannya sama, maka kata ’Salib’ dianggap paling tepat untuk nama Paroki baru, yaitu Paroki Salib atau Gereja Salib. Dalam perkembangannya, Pastor Bob menambahkan kata Suci agar terkait dengan peristiwa SALIB SUCI pada tahun 255 – 330 pada zaman Santa Helena ibu dari Kaisar Konstantin Agung. Saat Raja ini hendak pergi berperang mendapat penampakan Salib dengan tulisan ”TOUTO NlKA” dalam bahasa latin ”In Hoc Signo Vincit” artinya: “Dalam Tanda Ini Kamu Akan Menang” yang pestanya diperingati setiap tanggal 14 September. Kiranya dengan alasan-alasan tersebut maka SALIB SUCI menjadi makna kehidupan yang memberi arah meneguhkan, memberikan kekuatan, dan keselamatan dalam menghadapi badai kehidupan yang secara nyata dialami oleh warga Gereja di daerah ini. Maka jadilah nama paroki ini Paroki Salib Suci, yang pesta namanya diperingati setiap tanggal 14 September. (nara sumber: Bapak/lbu Wuysan, Bapak Suyono, Ibu Benny W, Bapak Anton B, Bapak Susdaryanto, Bapak Suratono, Bapak Sulistiyono dan berbagai tulisan sebelumnya)
Rancang Bangun Gereja yang Diidamkan
1. Arsitek dan Kontraktor.
Ketika Panitia Pembangunan Gereja sudah terbentuk, Romo Bob meminta kepada Romo JB. Mangun Wijaya Pr, untuk merancang arsitektur gereja Paroki Salib Suci. Setelah meninjau lokasi dan berbicara dengan pihak Keuskupan Agung Jakarta, Romo Mangun menyetujuinya, kemudian ia membuat rancangan arsitekturnya, yang ternyata sangat rumit. Konstruksi yang rumit itu berhasil dihitung oleh Bapak Wiratman, seorang konsultan dari PT. Wiratman & Associates. Maka segera ditunjuk kontraktor pelaksana pembangunan yaitu PT. Guna Bangun, yang menandatangani kontraknya tanggal 28 Oktober 1982. Kontraktor lain yang juga ambil bagian dalam pembangunan gereja, antara lain :
a. PT CITATAH – pelaksana pekerjaan marmer altar
b. PT. CITRA – pelaksana pekerjaan teralis dan pembesian bangku
c. PT. TANIUNGIATI dan PT. ANDYKA PUTRA pelaksana kayu bangku
d. PT. ICI dan PTGANESHA PUTRA SIWA melaksanakan pengecatan
e. PT. WIIAYA sebagai pelaksana pekerjaan taman.
2. Konstruksi Rumit Kaya Makna lman
Arsitektur Gereja Salib Suci yang dalam proses pengerjaannya sangat rumit dan sulit itu, ternyata mengandung makna yang sangat dalam bagi penghayatan iman umat di Paroki Salib Suci. Gereja ini ditopang oleh empat buah tiang besar berbentuk payung, yang setiap payungnya berbentuk obor dengan beberapa guratan lidah api.
* Empat tiang besar melambangkan keempat Injil, yang adalah “Sokoguru” Gereja.
* Empat payung melambangkan empat mata angin: Utara, Selatan, Timur dan Barat.
* Lidah api melambangkan peristiwa Pentakosta, Roh Kudus turun atas Para Rasul.
* Pertemuan empat tiang berbentuk payung membentuk salib bercahaya, tepat di titik tengah Gereja, melambangkan Kristus yang tersalib menjadi pusat iman kita, terang dan cahaya dunia.
Pemasangan keramik, bangku umat, serta marmer panti imam mengarah pada satu titik pusat yaitu altar Tempat Perjamuan Tuhan, yang merupakan tempat dimana seluruh kurban diri kita dipersembahkan dan disatukan dengan kurban Kristus di Salib.
Meja altar yang asli, merupakan rancangan Romo Mangun, terbuat dari batang kelapa (gelugu) berbentuk kayu yang bertumpuk-tumpuk, melambangkan kesetiaan iman Abraham dengan mempersembahkan kurban bakaran kepada Allah dan menghantar hidupnya dekat kepada Allah. Meja altar tersebut saat ini digunakan di Gereja St. Maria Lourdes, ds Sumber Kec. Dukun – Muntilan – Jawa Tengah, sedangkan di Gereja Salib Suci menggunakan meja altar yang lebih besar dengan ornamen “Perjamuan Terakhir” hasil karya Bapak An. Sunarto dari Bojonegoro-Jawa Timur, yang mulai digunakan saat Romo Karsiyanto, CM menjadi Pastor Kepala Paroki.
Teralis besi yang menjadi dinding sekeliling gereja, tersusun rapi dan membentuk gambaran pohon-pohon kehidupan, sebagaimana dilukiskan dalam Kitab Yeremia. Gereja bukanlah sekedar bangunan kosong belaka, tetapi merupakan sumber yang memancarkan daya kekuatan yang menyegarkan ranting hidup kita yang mengering. (nara sumber: Rm L. Karsiyanto, CM, Bapak Al. Suhadi, Bapak/Ibu Wuysan, Bapak Suyono, Ibu Benny W, Bapak Anton B. Bapak Susdaryanto, Bapak Suratono dan berbagai tulisan sebelumnya)
Prasasti pemugaran gereja ditempel di atas batu. Sesuai dengan sejarah daerah Tugu yang berasal dari kata ”Prasasti Tugu’ yakni batu bertulis dengan Bahasa Sansekerta dan berhuruf Pallawa dari zaman Taruma Negara (sekitar abad ke-5) yang ditemukan di desa ini.
Karya-karya Sosial di Paroki Salib Suci
1. Karya Sosial Suster-suster OSF
Karya Suster-suster OSF dimulai sejak tahun 1961 atas undangan Uskup Agung Jakarta saat itu, Mgr. Djayaseputra, SJ. Pada awalnya, Suster OSF memusatkan kegiatan dalam bidang kesehatan (poliklinik) dan Rumah Bersalin. Namun dalam perkembangannya, Suster OSF juga mengelola karya pendidikan, yang kemudian dikenal dengan nama Yayasan Marsudirini, mengelola TK, SD, SMP dan SMA. Keberadaan biara OSF sejak sebelum berdirinya Paroki Salib Suci hingga saat ini, memiliki peran yang sangat berarti bagi tumbuh kembangnya paroki ini.
2. Karya Sosial Lumba-Iumba dan Magdalena Group
Karya yang dirintis pada tahun 1976 oleh Pastor Vincent Cole, MM didampingi oleh Bapak Yacob ini, pada awal kegiatannya melakukan pelayanan bagi para nelayan dan tukang becak di pantai Cilincing. Pada saat yang hampir bersamaan Pastor Robert F. Boudhuin, MM merintis karya pelayanan bagi para Wanita Tuna Susila (WTS) di lokalisasi Kramat Tunggak.
Ternyata dalam perkembangannya, kedua Pastor Maryknoll merasa perlu didampingi oleh pembina wanita, untuk pelayanan kaum wanita nelayan dan para WTS. Maka diundanglah Sr. Paulina Gani, OSU, yang kemudian mengajak Ibu Benny Waluyo dan Ibu Johansyah untuk bergabung dalam karya pelayanan ini. Setelah penanggung jawab reksa pastoral Paroki Salib Suci diserahterimakan dari Kongregasi Maryknoll kepada Kongregasi Misi (CM) pada tahun 1980, Pastor FX. Wartadi, CM, pastor kepala saat itu meminta kepada WKRI Cabang Salib Suci, yang para pengurusnya antara lain Ibu Suparman, lbu Muaral dan Ibu Hartono, untuk mengelola karya pelayanan bagi para nelayan di Cilincing yang kemudian dikenal dengan nama Lumba-lumba.
Pemberian nama “Lumba-lumba” disuarakan sendiri oleh masyarakat nelayan yang dilayani, terinspirasi oleh sifat ikan lumba-lumba yang diyakini sebagai jenis ikan penolong manusia dikala berada dalam bahaya di laut. Sementara itu Sr. Paulina Gani, OSU, Ibu Benny Waluyo, Ibu Johansyah dan Sr. Cesilia, RGS, mengelola karya pelayanan para WTS di lokalisasi Kramat Tunggak, yang dikenal dengan Magdalena Group.
Seiring dengan perjalanan waktu, pada tahun 1997 Lokalisasi Kramat Tunggak ditutup, maka karya sosial ini tidak lagi melayani para WTS dan Mucikari, tetapi berubah menjadi melayani masyarakat miskin di sekitar bekas lokalisasi (buruh cuci, pembantu, tukang ojek dan tukang masak), yang semula hidupnya tergantung kepada para penghuni lokalisasi. Karya ini dipusatkan di dua lokasi yakni di Tanah Merah – Kelurahan Semper Barat dan sekitar Balai Rakyat – Kelurahan Tugu Selatan. Saat ini sumber dananya berasal dari para donatur dan terfokus pada kegiatan bimbingan belajar (TK-SD-SMP), perbaikan gizi, sembako, pakaian murah, kesehatan diri dan lingkungan, beasiswa, serta tabungan klien. Sementara itu, atas usaha dana yang dilakukan olah Pastor Veal, CM saat bertempat tinggal di Cilincing, Lumba-lumba mendirikan sebuah Poliklinik/Balai Kesehatan Masyarakat yang oleh Pastor Veal diserahkan pelaksanaannya kapada Pastor Harto, CM dan kemudian diserahkan kapada para pengurus Lumba-lumba. Pada tahun 1992 karya sosial yang sumber dananya dari KAJ dan para donatur ini, menjadi Yayasan Sosial Lumba-lumba dengan katua Bapak JBS Hartono. (nara sumber: Sr.Paulina Gani, OSU; Romo Wartadi, CM; Ibu Benny Waluyo; Ibu Muaral; Bapak.FX. Radjiman dan berbagai tulisan sabelumnya)
3. Karya Sosial Atma Brata
Atma Brata adalah Karya Sosial Paroki Salib Suci, bergerak di bidang pelayanan bagi orang miskin yang tinggal di Kelurahan Semper Barat dan Semper Timur – Kecamatan Cilincing, bekerjasama dengan CCF (Christian Children Fund) yang berpusat di Richmond – Amerika Serikat.
Layanan Atma Brata meliputi pemberian beasiswa, layanan anak-anak pra-sekolah, perbaikan gizi anak-anak, pengembangan keluarga miskin dengan memberi bantuan modal usaha dan kursus ketrampilan, sarta koperasi (CU). (nara sumber: Bapak Radjiman, Suster Monica, PK dan tulisan-tulisan sebelumnya)
4. Serikat Sosial Vincentius (SSV) Konferensi St. Paulus
SSV yang semula merupakan kelompok pandalaman iman ini, dirintis di Paroki Salib Suci tahun 1985 olah Romo A. Sad Budiyanto, CM bersama lbu A.M. Sri Wijayati Budi, Bapak Liando Martin, Bapak Bernard Angga Prasatya, Bapak Karsidi dan Sr. Hubertin, OSF. Disemangati olah Yak 2:26 “lman tanpa perbuatan adalah mati”, serikat sosial ini melakukan pelayanan di berbagai bidang seperti: ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial dan pembinaan iman. Karya yang sumber dananya berasal dari para donatur, kolekte rahasia, Twinning-Australia dan dari usaha konferensi ini, telah mengembangkan pelayanannya di beberapa wilayah. (nara sumber: lbu AM Sri Wijayanti Budi, Bapak Surono dan tulisan-tulisan sebelumnya)
5. Karya Sosial Suster Puteri Kasih
Para Suster Puteri Kasih Komunitas Rosalie Rendu Jakarta mulai berkarya di Paroki Salib Suci tanggal 7 Agustus 1987, atas undangan Pastor Paroki Salib Suci, Romo FX. Wartadi, CM. Setelah mendapat izin dari Uskup Agung Jakarta Mgr. Leo Soekoto, SJ dan atas persetujuan Suster-suster Fransiscan (OSF), Puteri Kasih mulai berkarya di perkampungan nelayan di Pantai Cilincing untuk membantu meningkatkan kehidupan orang-orang miskin di perkampungan nelayan dan sekitarnya, agar hidup lebih layak dan mandiri, serta membantu karya pastoral Paroki Salib Suci. Karya ini disemangati oleh pesan St. Vinsensius bahwa “Orang miskin adalah guru dan majikan”. Selain dari provincial, Suster-suster Puteri Kasih mendapatkan dana dari donatur dan Keuskupan Agung Jakarta (bila diperlukan).
(nara sumber: Sr. Monika, PK dalam buku Suster-suster Puteri Kasih dari Vincensius A Paulo Abdi Para Miskin)
6. Karya Sosial Bruder ALMA
Tahun 1997 Departemen Sosial mengadakan URSK (Unit Rehabilitasi Sosial Keliling) di Cilincing. Daiam kesempatan ini banyak terjaring penyandang cacat, yang kemudian penanganannya diserahkan kepada ALMA (Asosiasi Lembaga Misionaris Awam) melalui Yayasan Bhakti Luhur cabang Jakarta, yang berkantor di Jl. Nangka 4 Lebak Bulus Jakarta. Yayasan yang berpusat di Malang jawa Timur ini, berkarya di bidang pelayanan anak cacat mental terutama Down Syndrome. Karena kegiatan di Cilincing jauh dari pusat yayasan, maka penanganannya diserahkan kepada para Bruder ALMA.
Tanggal 3 Maret 1998, Bruder Petrus Partono, ALMA mulai berkarya di Cilincing, menumpang rumah milik Yayasan Lumba-lumba. Tanggal 15 juni 2002, Bruder Petrus mulai menempati rumah di Jalan Kelapa Dua No. 7 Cilincing, sebagai Bruderan sekaligus sebagai pusat kegiatan pelayanan. Kegiatan ini didanai oIeh Yayasan Bhakti Luhur cabang Jakarta dan dari para donatur. (nara sumber: Bruder Petrus Partono, ALMA).
7. Kevinlo ( Kelompok Vincensian Louisan )
Adalah kelompok muda Vincensian yang aktif memberikan pelayanan pada masyarakat miskin atau pinggiran di Pantai Kalibaru-Cilincing, bawah kolong jalan tol Kelurahan Papanggo Warakas, dan di Poncol Bekasi. Dirintis pada tahun 1999 oIeh Sr. Christa PK; Dr. Welly K; Dr. Sinaga; Dr. Jeno; dan Dr. Yosef. Kelompok yang terinspirasi oleh semangat Santo Vincensius dan Suster Louisa ini, melakukan berbagai jenis pelayanan antara lain: bimbingan belajar, kesehatan, serta membantu pelayanan yang diselenggarakan Puteri Kasih. (nara sumber: Andre dan tulisan-tulisan yang ada sebelumnya)
Gemilang Masa Depan Paroki-ku
Melanjutkan program ”Menuju Gereja Menawan” yang dirintis oleh Romo Hario Subiyanto CM, dilanjutkan dengan program ”Gereja Bagawan Jaya” oleh Romo Karsiyanto CM. Saat ini Romo Antonius Wahyuliana, CM bersama Romo Martinus Aloysius Paryanto, CM, gencar melaksanakan pemberdayaan umat basis Paroki Salib Suci dengan acuan yang lebih terarah, yang terangkum dalam Visi dan Misi Paroki, sebagai berikut:
VISI
Menjadi Gereja yang Peduli dan Terlibat dalam KASIH dan PERSAUDARAAN
Kata yang di-HIDUP-i
Peduli/Solider: Seperasaan/Merasa satu dengan yang lain
Terlibat: Ikut serta bersama
Kasih : Cinta akan kehadiran Allah, mau hidup bcrsama di dalam suka dan duka /ada hati
Persaudaraan: Merasa sebagai bagian dalam satu keluarga
MISI
2007: Menggiatkan dan Memberdayakan Lingkungan Umat Basis yang terlibat untuk saling mengenal dan dikenal
2008: Menggiatkan dan Mewartakan Iman dalam Lingkungan
2009: Menggiatkan semangat Kasih dengan Berbagl kepada yang miskin, lemah
2010: Keluarga dan Kaum Muda yang berdoa
Arah Dasar Paroki Salib Suci
Membangun Paroki Salib Suci dalam:
1. Lingkungan Iman
2. Penghayatan dan pelayanan Iman
3. Organisasi pelayanan dan kaderisasi
4. Membangun sarana fisik Paroki Salib Suci yang mendukung VlSl dan MISl***


















